Pintu Air Manggarai, hanya untuk Gubernur pemberani…

Sebelum membaca lebih lanjut, saya sangat berharap para pembaca dapat menyimaknya dengan pikiran terbuka. Tidak ada maksud saya untuk menyudutkan siapapun, karena tulisan ini saya buat murni dengan semangat untuk sekedar sharing informasi.

Sebelumnya mari kita mengenal dulu tentang pintu air.

Pemerintah Provinsi Jakarta memiliki beberapa stasiun pengamatan yang bertujuan untuk mengawasi tinggi muka air di sungai-sungai yang melewati Jakarta. Stasiun pengamatan ini tersebar di Jabodetabek, semakin tinggi muka air, status siaganya pun juga semakin tinggi (urutan dari yang terendah yaitu Siaga IV, III, II dan I).

Pertanyaannya, kapan status siaga IV, III, II dan I itu terjadi??.

Dinas Pekerjaan Umum DKI sudah membuat kriterianya sebagai berikut :

Status siaga dibeberapa stasiun pengamatan

Status siaga dibeberapa stasiun pengamatan

Yang berhak memberikan komando membuka/menutup pintu air, termasuk akan dikemanakan arah air di lokasi tergantung kepada tingkatan status siaga nya. Apabila baru Siaga 4, yang berhak memberikan komando dilapangan cukup Komandan pelaksana dinas atau Wakil komandan operasional wilayah, namun apabila sudah pada kondisi Siaga 1 maka komando mutlak sudah ditangan Gubernur.

Khusus di pintu air Manggarai, terdapat satu pintu yang mengarah ke Ciliwung lama. Ciliwung lama ini bermuara di Pelabuhan Sunda Kelapa, alirannya melalui Manggarai, Cikini, Pintu Besar Istiqlal, dan Mangga Besar. daerah-daerah tersebut merupakan kawasan ring satu yang selama ini steril dari banjir seperti Istana Kepresidenan, Istana Wakil Presiden, Mahkamah Agung, Balaikota DKI, Markas Kostrad, Mabes TNI Angkatan Darat, dan Bank Indonesia. Untuk mencegah daerah tersebut kebanjiran, Ciliwung lama dibelokkan ke barat melewati Tanahabang, Tomang, Jembatan Lima, hingga ke Pluit melalui pembangunan Kanal Banjir Barat pada 1919-1920.

Kita ingat pada saat banjir besar tahun 2007, warga mengamuk dan berencana akan membongkar paksa pintu Ciliwung lama, mereka kesal karena menderita akibat banjir, sementara Istana kering. Warga merasa dijadikan korban demi melindungi Istana dari kebanjiran. Waktu itu tinggi muka air sempat mencapai 1085 cm (Siaga 1 = 950 cm).

Gubernur Jakarta pada waktu itu, Sutiyoso, sempat bimbang untuk membuka pintu Ciliwung lama karena khawatir Istana dan kawasan ring 1 akan terendam banjir. Saat itu Sutiyoso mengambil tindakan yang sangat berani, dihadapan para wartawan, Sutiyoso menelepon Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. ’’Tolong disampaikan kepada presiden saya akan membuka pintu air Manggarai. Konsekuensinya Istana Merdeka akan kebanjiran sekitar 50 cm. Begitu juga kantor saya, Istana Wapres, dan Kedubes Amerika Serikat,’’ kata Sutiyoso.

Sikap Sutiyoso tersebut sempat membuat hubungannya dengan Presiden SBY memanas. Kita semua tahu bahwa SBY merupakan mantan anak buah Sutiyoso ketika sama-sama di Angkatan Darat dulu. Namun niat baik Sutiyoso untuk meminta izin kepada Presiden justru membuat dirinya tersudut. Presiden SBY menganggap seolah-olah dirinya yang melarang pintu air Manggarai dibuka agar istana tidak kebanjiran, sehingga Sutiyoso harus meminta izin kepadanya terlebih dahulu. ’’Tidak benar, kalau untuk membuka pintu air Manggarai harus minta izin kepada saya, Tidak apa-apa istana kebanjiran, asalkan rakyat tidak kena banjir.’’ Kata SBY. SBY juga mengkalirifikasi bahwa kewenangan membuka pintu Air Manggarai ada ditangan Gubernur DKI, dan istana tidak ikut campur soal itu.

Minggu dinihari pukul 03.00 pintu air Manggarai akhirnya dibuka atas instruksi Sutiyoso, air masuk ke kawasan Monas, Stasiun Gambir, dan Kedubes Amerika Serikat. Untungnya, kekhawatiran Istana Merdeka akan tergenang air justru tidak terbukti. Hingga Minggu malam, Istana Merdeka maupun Istana Negara tidak kebanjiran.

manggarai

Hal berbeda justru terjadi pada minggu lalu, ketika hujan deras melanda Jabodetabek. Ketinggian muka air di Pintu Air Manggarai pada Kamis (17/1/2013) sudah melewati ambang batas yakni mencapai 1.030 cm. Meski sudah siaga I, pintu air yang mengarah ke Sungai Ciliwung Lama tidak dibuka oleh Gubernur DKI Joko Widodo sebagai pemegang komando. Padahal, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah merelakan Istana tergenang banjir jika pintu air Ciliwung Lama dibuka.

Kenapa pintu air ke arah Istana tidak dibuka? Usut punya usut, ternyata Kepala Pintu Air Manggarai Pardjono tidak mendapat instruksi untuk membuka pintu air tersebut. Ya itu bukan kewengan saya. Kalau ada instruksi, ya saya buka, Kewenangan untuk membuka pintu air setelah kondisi Siaga I ada di Gubernur. Saya tunggu sampai tengah malam, tidak ada instruksi, ya tidak dibuka,” jelas Kepala Menara Air Manggarai, Jakarta Selatan.

Pada saat banjir besar yang mengakibatkan jebolnya tanggul Latuharhary dan terendamnya basement di Gedung UOB, pintu air ke arah Ciliwung Lama masih tertutup rapat hingga hari Jumat (18/1/2013). Kondisi sungai Ciliwung Lama sangat kontras dengan Kanal Banjir Barat. Jika di KBB air sangat tinggi dan meluap, sungai Ciliwung Lama terlihat hanya sedikit air, dasar sungai pun terlihat karena tidak ada aliran air.

Akibat tidak dibukanya pintu air ke Ciliwung Lama, Kanal Banjir Barat meluap. Korbannya, tanggul di Jalan Latuharhary (Taman Lawang) jebol. Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin pun kebanjiran sehingga mengakibatkan 4 lantai Basement di Gedung UOB terendam banjir dan merenggut nyawa 4 orang.

Mengapa engkau ragu-ragu Pak Jokowi?? Apakah anda takut area Ring 1 (Istana, dll) kebanjiran. Padahal sejak dulu Presiden SBY sudah merelakan Istana kebanjiran, asalkan rakyat tidak kena banjir.

Atau, anda yang belum genap 100 hari berada di Jakarta, belum mengetahui prosedur bahwa komando untuk membuka pintu Ciliwung Lama pada saat pintu air Manggarai siaga 1 berada di tangan anda??

Wallahualam..

Yang pasti, Pintu Air Manggarai, hanya untuk Gubernur pemberani…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pintu Air Manggarai, hanya untuk Gubernur pemberani…

  1. kickryan berkata:

    sayang sekali jika jakarta terus banjir…
    kenapa tidak kita buat sistem penanggulangan banjir yg baik seperti belanda (contoh real)…
    padahal jika itu terus2an banjir maka kerugian bisa sampai triliunan rupiah sebagai konsekuensi banjir dijakarta…

    jika management jakarta butuh 20 tahun lagi untuk membuat jakarta baik.. lebih baik ada penanganan serius untuk jangaka panjang dari pemerintah pusat sperti perpindahan pusat pemerintahan atau pusat ekonomi kita..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s